Create your own banner at mybannermaker.com!

Search...

PARIS 25-04-2008: Bedah Buku `Smart Healing - Kiat Hidup Sehat Menurut Nabi` bersama dr. Mohammad Ali Toha Assegaf

0

Assalamu'alaikum Saudara/i-ku yang dirahmati Allah SWT...

RISKA (Remaja Islam Sunda Kelapa) mengundang rekan-rekan untuk berakhir pekan di PARIS (Pengajian Akhir Pekan RISKA) pada:

Hari / Tanggal : Jum'at / 25 April 2008
Waktu : Pkl 18.00 - 20.30 WIB (Sholat Maghrib & Sholat Isya berjamaah di Masjid Agung Sunda Kelapa)
Tempat : Ruang Ibadah Masjid Agung Sunda Kelapa, Jl. Taman Sunda Kelapa No. 16 Menteng - Jakarta
Tema : Bedah Buku "SMART HEALING – KIAT HIDUP SEHAT MENURUT NABI"

(Memasyarakatkan Hidup Sehat Yang Alami, Islami, dan Murah Melalui Smart Healing)

Pembicara : dr. Mohammad Ali Toha Assegaf (Penulis Buku "Smart Healing")

Acara ini GRATIS dan terbuka untuk UMUM.

Ditunggu kehadirannya & silahkan menyebarkan Informasi ini ke saudara/i kita.

Info Selengkapnya:
- Sekretariat RISKA (021) 31905839
- M. Shobrun Jamiil (021) 32227585 / 081586307454
- Muni (021) 68886012 / 08129788260

Jazakumullahu khairan katsiran.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Salam Hangat dari Menteng,
Remaja Islam Sunda Kelapa - RISKA , remaja islam yang punya gaya TM
Sekretariat:
Jl. Taman Sunda Kelapa #16
Menteng, Jakarta Pusat 10310
telp. 021 - 3100580, 31905839
fax. 021 - 3154179
email: remajaislamsundakelapa[at]gmail.com
website: www.riskaonline.org

(Leaflet terlampir)

Klik Judul Artikel untuk Baca Selengkapnya....

(Dakwatuna.com) Bagaimana Bersikap Terhadap Pejabat Publik?

0

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz, alhamdulillah saya aktif dalam kegiatan sosial keislaman. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan berkenaan dengan para ustadz yang menjadi pejabat publik. Sebenarnya, saya dan teman-teman aktivis lain senang dengan fenomena ini. Tapi, ketika saya berkunjung ke rumah beliau-beliau, ada semacam keprihatinan. Saya menangkap keprihatinan beliau-beliau terhadap anggapan para aktivis sekitar.

Pertama, banyak orang beranggapan bahwa para pejabat publik punya banyak uang, sehingga beliau-beliau menjadi tempat yang paling layak untuk diajukan proposal kegiatan. Kedua, mereka tampak sungkan membeli perabot atau kendaraan karena selalu dihubungkan dengan penghasilan sebagai pejabat publik. Akhirnya, ada kesenjangan antara para aktivis dengan para ustadznya.

Pertanyaan saya, bagaimana menjembatani perbedaan itu. Apanya yang salah sehingga fenomena itu bisa terjadi. Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Muhammad, Tangerang.

Jawaban

Saudara Muhammad di Tangerang dan pengunjung dakwatuna.com di mana pun Anda berada, assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Semoga Allah swt. senantiasa memberikan taufiq, hidayah, ri’ayah, dan ‘inayah-Nya kepada kita semua; agar kita semua tetap istiqamah dalam meniti jalan dakwah dan terus bekerja sama di bawah syi’ar wa ta’awanu ‘ala al-birri wa at-taqwa (saling membantu dalam kebajikan dan ketaqwaan). Amin.

Ada dua hal yang ingin saya sampaikan terkait dengan “fenomena” yang Anda sampaikan, yaitu: pertama, bagaimana kita bersikap jika kita berada pada posisi pejabat publik, baik pada jajaran eksekutif, legislatif ataupun yudikatif; kedua, bagaimana kita yang bukan pejabat publik bersikap kepada mereka yang mengemban amanah jabatan publik.

Ada beberapa hal yang harus selalu diingat oleh para pejabat publik (dan sebenarnya, termasuk yang bukan pejabat publik juga), di antaranya adalah:

1. Dalam hubungannya dengan Allah swt:

a. Senantiasa menjaga keimanan dan keikhlasan. Sebab Rasulullah saw. bersabda, “Bahwa segala sesuatu itu bergantung kepada niatnya, dan bahwa masing-masing orang itu bergantung kepada niat yang dimilikinya, maka barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya menuju Allah swt. dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrah karena dunia yang ingin didapatkannya, atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya menuju kepada apa yang ia hijrah untuknya.” (Muttafaqun ‘alaih). Terkait dengan ikhlas ini, hendaklah Anda jadikan seluruh amal, pernyataan, dan sikap Anda dalam rangka meraih ridha Allah swt. Bukan ridha publik, simpatisan, atau pendukung. Imam Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Siapa yang beramal karena manusia, maka ia telah berbuat riya’; dan siapa meninggalkan amal (tidak jadi beramal) karena manusia, maka ia telah syirik; dan ikhlas adalah manakala amal kita terbebas dari keduanya.” Ketahuilah, duhai Saudaraku, bahwa publik, simpatisan, dan pendukung tidak akan mampu menyelamatkan kita dari Allah swt.

b. Senantiasa menjaga shidq (kebenaran dan kejujuran). Tidak ada kontradiksi dan perbedaan antara yang lahir dengan yang batin, yang tampak dan yang tersembunyi. Baik shidq dalam niat, tekad, kehendak, berbicara atau membuat pernyataan, berbuat atau berperilaku, bersikap dan tampil; baik shidq menurut ukuran realita (fakta), undang-undang, dan yang paling utama adalah shidq menurut pandangan syari’at Allah swt. Hendaklah kita ingat kisah Ka’ab bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang Allah swt. terima taubatnya setelah ditangguhkan selama 50 hari 50 malam. Hal ini karena ia tetap konsisten dengan shidq. Ia berkata: “Dan tidak menyelamatkan diriku kecuali shidq.

c. Asy-Syu’ur bi muraqabatillah (merasakan pengawasan Allah swt.). Dengan demikian, segala ucapan atau pernyataan, perbuatan atau perilaku, sikap atau penampilan, telah kita perhitungkan dan kita yakini bahwa pengawasan Allah swt tidak pernah luput dari kita.

d. Al-Isti’dad li al-hisab al-ukhrawi (menyiapkan diri untuk menghadapi hisab (audit) di akhirat di hadapan mahkamah Allah swt. Hendaklah kita mengingat kisah Abu Bakar Ash-Shidq radhiyallahu ‘anhu yang semenjak di dunia telah menyiapkan jawabannya (LPJ-nya) saat ditanya Allah swt. di akhirat nanti. Alkisah bahwa sebelum meninggal dunia Abu Bakar berwasiat agar pengganti dia sebagai khalifah adalah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Saat itu para sahabat nabi yang lain bertanya, “Apa jawaban (LPJ) Anda kalau ditanya Allah swt.?” Maka Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Akan saya jawab, aku pilihkan untuk umat Islam yang terbaik di antara mereka.”

2. Dalam hubungannya dengan publik (masyarakat, rakyat, dan khususnya para pendukung dan simpatisannya):

a. Ash-Shabru ‘ala adzâhum wa ghilzhatuhum (bersabar atas rasa sakit yang ditimpakan oleh publik dan atas sikap kasar mereka). Kita bisa mengingat kisah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang oleh sebagian rakyatnya akan diluruskan dengan pedang, jika ia menyimpang.

b. Asy-Syafafiyyah (transparansi) dan siap memberikan klarifikasi, khususnya jika diminta. Sikap ini telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para khulafa’ al-rasyidun. Setelah selesai Perang Hunain, sebuah peperangan yang sangat banyak ghanimahnya, Rasulullah saw. membagi habis semua ghanimah itu kepada kaum muslimin baru dan bahkan kepada orang-orang yang belum masuk Islam. Sedangkan orang-orang Muhajirin dan Anshar tidak mendapatkan bagian sama sekali. Saat itu banyak suara-suara miring menanggapi masalah ini. Melihat hal ini, Rasulullah saw. memberikan klarifikasinya kepada orang-orang Anshar, sampai mereka puas atas klarifikasi yang diberikan Rasulullah saw., walaupun tetap tidak memberikan harta rampasan kepada mereka.

Khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu juga dengan lapang dada memberikan klarifikasi tentang baju yang dipakainya saat ada orang yang mempertanyakan hal itu. Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu bahkan membuka forum dialog publik untuk mengklarifikasi semua tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya, sampai semua hadirin merasa puas atas jawaban Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahkan mengutus Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma untuk berdiskusi dengan pasukan Khawarij tentang beberapa sikap politiknya, sehingga banyak di antara orang-orang Khawarij itu yang kembali kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Bagaimana kita sebagai publik, khususnya pendukung dan simpatisan para pejabat publik, bersikap?

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik pendukung adalah orang yang jika pemimpinnya ingat, maka mereka menolong, dan jika pemimpinnya lupa, maka mereka mengingatkan.”

Secara simple namun padat makna. Hal itu juga telah dijelaskan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dalam pidatonya pasca pembai’atan dirinya sebagai khalifah. Ia berkata, “Bantu dan tolonglah saya jika saya berbuat baik, dan luruskan saya jika saya berbuat buruk…. Taatilah saya selama saya taat kepada Allah swt. dan Rasul-Nya. Jika saya maksiat kepada-Nya, maka tidak ada kewajiban taat atas kalian.”

Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda, “Agama adalah nasehat… kepada Allah swt., kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, kepada para pemimpin (baik pejabat publik maupun para ulama), dan juga kepada semua kaum muslimin.

Hal ini menegaskan bahwa sebagai publik, pendukung, dan simpatisan, kita tetap berkewajiban untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar termasuk kepada para pemimpin. Dengan demikian, terwujudlah makna dari firman Allah swt., “Demi masa. Sesungguhnya semua manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan yang saling berwasiat dengan kebenaran dan yang saling berwasiat dengan kesabaran” (Q.S. Al-’Ashr).

Saudara Muhammad dan pengunjung dakwatuna.com di mana pun Anda berada, dari jawaban saya ini mungkin Anda bisa menilai bahwa saya lebih cenderung untuk tidak mencari mana yang salah atau apa yang salah, namun apa yang mesti kita lakukan dan bagaimana seharusnya kita berbuat. Dan jika hal ini sudah kita lakukan, insya Allah, suasana saling curiga mencurigai, ewoh pakewoh (serba salah dan serba nggak enak), akan bisa dihindari. Sehingga suasana wa ta’awanu ‘ala al-birri wa al-taqwa bisa ditegakkan demi sukses dakwah Islamiyah. Amin.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/bagaimana-bersikap-terhadap-pejabat-publik/


Klik Judul Artikel untuk Baca Selengkapnya....

Perjodohan Ala Islam : Nikah Dulu, Baru Pacaran

0

21/04/2008 13:01 WIB
Perjodohan Ala Islam(3)
Nikah Dulu, Baru Pacaran
Ronald Tanamas - detikcom


Jakarta - Pacaran sudah menjadi hal yang biasa dilakukan anak muda zaman sekarang. Bahkan sudah umum bila sebelum menikah mereka sudah gonta-ganti pacar. Namun sebagian kalangan, terutama muslim, banyak yang menolak pacaran. Mereka langsung melakukan pernikahan tanpa melalui fase pacaran.

Pacaran biasanya diklaim merupakan sarana untuk mengenal lebih dekat masing-masing pasangan. Umumnya, karakter yang ingin diketahui itu terdiri dari bibit, bebet, dan bobot dari calon pasangan.

Namun biasanya, dalam tahap pacaran ini, sering terjadi penyimpangan. Tidak sedikit mereka yang pacaran kemudian terjerumus dalam perbuatan yang dilarang oleh agama seperti zina.

Ustadah Hartati Anas menyatakan, Islam tidak mengenal pacaran. Dalam Islam, hubungan nonmuhrim juga diatur, yaitu adanya larangan berkhalwat (berdua-duaan) dengan lawan jenis. Firman Allah SWT dalam surat Al Isra ayat 32 yang menyebutkan, janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

Islam menyerukan agar menyegerakan pernikahan bagi yang sudah mampu. Dalam hadist Bukhari dan muslim, Nabi Muhammad bersabda, Wahai para pemuda. Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.

Dengan berpedoman pada Surat Al Isra dan hadis tersebut, maka banyak kalangan muslim yang menolak pacaran. Mereka hanya melakukan taaruf alias perkenalan sebelum menikah. Pacaran, dilakukan setelah kedua pasangan menikah.

Hal seperti ini misalnya dilakukan oleh Ketua MPR Hidayat Nurwahid. Ia hanya bertaaruf dengan bertemu 3 kali dengan calon istri. Bagi Ketua MPR RI ini, waktu tiga minggu sudahlah cukup untuk mengenal calon istrinya, Diana Abbas Thalib. Selanjutnya melangkah ke jenjang pernikahan.

" Keinginan saya untuk menikah lagi dilandaskan kepada agama, jadi tidak perlu neko-neko dan lama untuk prosesnya " kata Hidayat kepada detikcom.

Dalam masa penjajakan, Hidayat dan Diana hanya melakukan ta'aruf, kemudian bertemu dengan didampingi beberapa teman selama 3 kali dan kemudian memutuskan khitbah (lamaran). Rencananya 10 Mei mendatang keduanya akan melangsungkan pernikahan.

Hidayat juga mengaku akan menjalani proses pacaran setelah perkawinan dilangsungkan atau setelah resmi menjadi suami istri. "Pacaran sudah tidak perlu lagi untuk seusia saya, seandainya perlu akan saya lakukan setelah kami menikah " Tegas Hidayat.

Pasangan Andri dan Rina, warga Tangerang juga melakukan hal yang sama dengan Hidayat, menikah setelah taaruf tanpa melewati masa pacaran. Andri yang melakukan pernikahan ala Islam itu mengaku bahagia.

"Jika pernikahan ini diibaratkan seperti membeli buku, buku yang saya beli sangat terjamin baik dari isi maupun covernya karena belum terbuka segelnya dan belum tersentuh oleh pedagangnya, " kata Andri.

Andri yang menikah pada akhir 2007 ini mengaku tanpa pacaran terlebih dulu, justru ia kerap dihampiri rasa rindu dan kangen jika tidak bertemu sang istri.

Perkawinan adalah sebuah ikatan sakral. Ikatan itu diadakan bukan sekadar urusan pribadi dua manusia berlainan jenis. Namun ada makna sosial yang terkandung di dalamnya.

Dalam agama Islam sebuah perkawinan punya tujuan, selain untuk memperoleh keturunan, perkawinan juga dimaksudkan untuk menghindari perbuatan keji dan terlarang, zina misalnya. Islam juga memandang perkawinan juga bisa� melindungi masyarakat dari kekacauan.

Ustadah Hartati Anas mengatakan, tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami- istri dapat melaksanakan syari'at Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari'at Islam adalah wajib.

Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, maka ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal, yaitu Kafa'ah dan Shalihah.

"Dan yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah." imbuh Ustazah Hartati Anas kepada detikcom.

Hartati kemudian menjelaskanï pengertian kafa'ah sesuai dengan surat Al Hujurat ayat 13 yang berbunyi, Allah memandang sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan dari keduanya melainkan derajat taqwanya.

Jadi kata Hartati, kafa'ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam perkawinan, dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara suami-istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami, insya Allah akan terwujud.

Sedangkan Sholehah dalam pernikahan menurut islam, imbuhnya, adalah orang yang mau menikah harus memilih wanita yang shalihah dan wanita harus memilih pria yang sholeh. ( ron / ddg )

Source : http://www.detiknew s.com/index. php/detik. read/tahun/ 2008/bulan/ 04/tgl/21/ time/130134/ idnews/926657/ idkanal/10

Klik Judul Artikel untuk Baca Selengkapnya....

PARIS 18-04-2008: `Menjauhkan Diri Dari Sifat Musyrik` bersama Ust. M. Budi Zulkarnaen

0

Assalamu'alaikum Saudara/i-ku yang dirahmati Allah SWT...

RISKA (Remaja Islam Sunda Kelapa) mengundang rekan-rekan untuk berakhir pekan di PARIS (Pengajian Akhir Pekan RISKA) pada:

Hari / Tanggal : Jum'at / 18 April 2008
Waktu : Pkl 18.00 - 20.30 WIB (Sholat Maghrib & Sholat Isya berjamaah di Masjid Agung Sunda Kelapa)
Tempat : Ruang Ibadah Masjid Agung Sunda Kelapa, Jl. Taman Sunda Kelapa No. 16 Menteng - Jakarta
Tema : "MENJAUHKAN DIRI DARI SIFAT MUSYRIK"
Pembicara : Ust. M. Budi Zulkarnaen

Acara ini GRATIS dan terbuka untuk UMUM.

Ditunggu kehadirannya & silahkan menyebarkan Informasi ini ke saudara/i kita.

Info Selengkapnya:
- Sekretariat RISKA (021) 31905839
- M. Shobrun Jamiil (021) 32227585 / 081586307454
- Muni (021) 68886012 / 08129788260

Jazakumullahu khairan katsiran.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

(Leaflet terlampir)

Klik Judul Artikel untuk Baca Selengkapnya....

KPI Peringatkan "Mamamia Show" Karena Mengganggu Waktu Maghrib

0

eramulim.com

Rabu, 16 Apr 08 05:40 WIB

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat memberikan peringatan keras terhadap tayangan program televisi berupa ajang kompetisi bernyanyi secara langsung (live) "Mamamia Show" dan sejenisnya (“Star Dut” dan “Super Seleb Show”) yang mengganggu ibadah sholat Maghrib yang wajib dilaksanakan umat Islam

Protes KPI itu dilayangkan setelah mendapatkan masukan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU), serta menerima protes dari sejumlah elemen masyarakat.

“Selain mengganggu penonton di rumah, KPI pusat juga mendapatkan keluhan bahwa di studio Indosiar tidak disediakan tempat shalat untuk penonton acara reality show tersebut, ” kata Ketua KPI Pusat Sasa Djuarsa Sendjaja dalam surat yang dilayangkan ke PBNU, Selasa(15/4).

Berdasarkan pemantau, tayangan kompetisi bahkan dimulai sebelum waktu shalat maghrib tiba dan berakhir hingga larut malam. Indosiar hanya memberikan jeda waktu untuk adzan maghrib beberapa menit saja, kemudian acara dilanjutkan kembali.

Kalaupun dipersiapkan tempat shalat, pihak Indosiar tidak mungkin bisa menampung ratusan penonton yang hadir, sambil menyiapkan tempat berwudhu sekaligus. Sementara itu, banyak di antara keluarga peserta dan para penonton yang hadir tampak berbusana muslim dan dipancing untuk bersorak sorai pada menit-menit shalat maghrib yang sangat pendek sekitar 65 menit.

KPI meminta pihak Indosiar memindahkan jam tayang ”Mama Mia Konser” dan program ajang kompetisi sejenis pada pukul 19.00 waktu setempat. Selain itu, lanjut Sasa, jam tayang program tersebut juga dapat mengganggu waktu belajar anak-anak.

Bahkan, KPI beranggapan program pemilihan bakat itu masih menampilkan lelucon-lelucon kasar dalam dialog antara pembawa acara dan komentator.

“KPI Pusat mengingatkan Indosiar untuk senantiasa memperhatikan peraturan-peraturan terkait isi siaran dalam Undang Undang Penyiaran serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran, ” sambung Sasa Djuarsa.(novel/nu.ol)

Klik Judul Artikel untuk Baca Selengkapnya....

**Zalimnya Pemerintahan Ini. **

0

Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik untuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan.


Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. "Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?" tanya saya.


Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia limapuluh dua tahun ini menggeleng. "Gak ada minyaknya."


Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan, katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. "Saya bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi harus jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya.." Pak Jumari bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang cekung.


"Maaf /dik/ saya menangis, saya benar-benar bingung. mau makan apa kami kelak.., " ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata. Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi beban hidupnya.


Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana. "Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat dia.. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan

dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami begini ."


Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.


Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang melingkar di leher. "/Dik/, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana, keadaan saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang ini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana, punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja. " Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh.


"/Dik/, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati... mungkin kehidupan di sana lebih baik daripada di sini yah..." Pak Jumari menerawang.


Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk.


Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat.


Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup mewah dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut 'anggaran negara' digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila lainnya. /Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah! /


Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli. Betapa zalimnya pemerintahan kita ini!


Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat.


Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di tepi jalan, poster-poster pilkadal ditempel dengan norak. Perut saya mual dibuatnya.


Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. "Nak, ini nasi bungkus yang engkau minta." Dia makan dengan lahap. Saya tatap dirinya dengan penuh kebahagiaan. /Alhamdulillah/ , saya masih mampu menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara.


Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup. Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabk an di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka masih punya nurani dan mau melihat ke bawah.


Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah...


Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui konglomerat dan pejabat... Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal...


Amien Ya Allah


Sumber: Unknown

Klik Judul Artikel untuk Baca Selengkapnya....

MUI: Waspada Kehalalan Roti BreadTalk

0

*MUI: Waspada Kehalalan Roti BreadTalk*
Arry Anggadha - detikcom

*Jakarta* - Kehalalan roti BreadTalk kembali dipermasalahkan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta kepada masyarakat untuk kembali mewaspadai kehalalan produk roti tersebut.

"Kami mengimbau kepada masyarakat luas untuk tetap berhati-hati terhadap
kehalalan produk BreadTalk sapai ada kepastian status halalnya," kata
Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika MUI
Nadratuzzaman Hosen dalam keterangan yang diterima *detikcom*, Selasa
(8/4/2008).

Nadratuzzaman menjelaskan, BreadTalk sebenarnya sudah mendapatkan sertifikat halal dari MUI pada 22 September 2005. Sertifikat halal itu berlaku hingga 22 September 2007.

"Sejak berakhirnya masa berlaku sertifikat halal tersebut, kami sudah
melayangkan surat agar segera memperpanjangnya dan dites kehalalannya oleh MUI. Namun sampai saat ini kami belum menerima balasan surat itu dan tidak ada niat baik perusahaan tersebut untuk memperpanjang sertifikat halalnya," bebernya.

Atas dasar itu, lanjut Nadratuzzaman, kehalalan BreadTalk pun diragukan.
"Kami menyesalkan manajemen PT Talkindo Selaksa Anugerah (produsen
Breadtalk) yang tidak mengindahkan surat kami dan tidak mengindahkan
aspirasi umat islam yang menanyakan staus kehalalannya, " pungkasnya.
*( ary / yid ) *

Sumber: detik.com

Klik Judul Artikel untuk Baca Selengkapnya....

PARIS 11-04-2008: `Menjadi Muslim Panutan` oleh Ust. H. Ahmad Hadi Wibawa (Aa Hadi)

0

Assalamu'alaikum Saudara/i-ku yang dirahmati Allah SWT...

RISKA (Remaja Islam Sunda Kelapa) mengundang rekan-rekan untuk berakhir pekan di PARIS (Pengajian Akhir Pekan RISKA) pada:

Hari / Tanggal : Jum'at / 11 April 2008
Waktu : Pkl 18.00 - 20.30 WIB (Sholat Maghrib, Sholat Tasbih & Sholat Isya berjamaah di Masjid Agung Sunda Kelapa)
Tempat : Ruang Ibadah Masjid Agung Sunda Kelapa, Jl. Taman Sunda Kelapa No. 16 Menteng - Jakarta
Tema : MENJADI MUSLIM PANUTAN
Pembicara : Ust. H. Ahmad Hadi Wibawa (Aa Hadi)

Acara ini GRATIS dan terbuka untuk UMUM.

Ditunggu kehadirannya & silahkan menyebarkan Informasi ini ke saudara/i kita.

Info Selengkapnya:
- Sekretariat RISKA (021) 31905839
- M. Shobrun Jamiil (021) 32227585 / 081586307454
- Muni (021) 68886012 / 08129788260

Jazakumullahu khairan katsiran.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

(Leaflet terlampir)

Klik Judul Artikel untuk Baca Selengkapnya....

The Daily School Run in Palestine

0

Israeli soldiers passing out candy to the kids
.







Making sure they get to school.





Helping Ladies across the street..







Providing childcare.







Allowing them a place to rest (permanently)








Access to Healthcare.






Construction projects (demolition)









Respecting American and British pacifist resisters (such as American Rachel Corrie)









And others.






And if you are not satisfied, now, with the truth the following pictures are war crimes as defined by the UN, The Hague and the Geneva Convention.


Using images of your enemy dead or alive (violation)






Human shields (violation)






Live Burial Torture (violation)






And as a last resort
, Execution (violation)






These IDF soldiers have faces... I can clearly see them...Cant you? Why are they not being prosecuted? Because it is systematic process that is driven by the government designed to force the people of
Palestine into exile so Israel can claim all the land and resources.


This where my American tax dollars are going, do you know where your tax dollars are at? TAKE THE TIME TO FIND THE TRUTH. So many lives depend on it. I, like so many Americans, am Caucasian, non-Arab, and religious. I can no longer sit back with good conscience and do nothing while my government is supporting the types of terrorist actions that we have condemned Muslim Fundamentalist for. Call your Congressman and Senator, send an email to the White House and demand that our government negotiate FAIRLY with both sides and bring a fair and just solution to Palestine and Israel .



Klik Judul Artikel untuk Baca Selengkapnya....

Jalan Taubat Sang Rocker

0

Oleh: Aidil Heryana, S.Sosi


"Cinta yang tulus di dalam hatiku,
Telah bersemi karena-Mu
Hati yang suram
kini tiada lagi
Tlah bersinar karena-Mu
Semua yang ada pada-Mu
Membuat diriku
tiada berdaya
Hanyalah bagi-Mu
Hanyalah untuk-Mu
Seluruh hidup
dan cintaku…"

dakwatuna.com - Masih terngiang lirik lagu Cinta Yang Tulus yang
dinyanyikan Bangun Sugito alias Gito Rollies, yang popular di tahun
80an. Lagu yang pernah dipopularkan The Rollies itu memang liriknya
terkesan religius. Namun kesan itu menjadi paradoks ketika tahu sisi
gelap dari kehidupan si pelantun tembang tersebut. Penampilan Gito
kala itu urakan dengan rambut awut-awutan dan celana jin belel
menghiasi kejayaan The Rollies Band di era 1980-an. Bahkan lagu-lagu
cadas meluncur dari suara seraknya. Segudang kendugalannya kerap
dikupas dan menjadi langganan infotainment.

Sudah menjadi rahasia umum bila dunia selebritis di mana pun berada
selalu dekat dan akrab dengan dunia gemerlap (dugem) yang kerap
diselingi berbagai macam kesenangan sesaat seperti narkoba dan
obat-obatan terlarang lainnya. Tak terkecuali pria kelahiran Biak, 1
November 1947 ini.

"Tiap Jumat siang kami berangkat ke daerah Puncak Bogor untuk pesta
miras dan narkoba," Ungkap Gito dengan nada sesal.

Sebelum merasakan ke-Mahaan Allah dalam dirinya, Bangun Sugito hidup
dalam serba kecukupan. Bergelimang kemewahan, bergiat dalam kehidupan
malam, bertemankan jarum neraka. Begitulah hari demi hari yang dilalui
seolah pakaian yang tak pernah lepas dari badannya.

Bahagiakah hidup seperti itu? Mendatangkan ketenangankah semua itu?
Sebuah pertanyaan yang belum terjawab, sebuah rasa yang belum pernah
ada dan sebuah keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya semuanya
hanya menghantarkannya ke alam risau, resah dan gelisah.

Klimaks terjadi kala ia merayakan ulangtahunnya yang ke-50 pada 1997.
Di situ, Gito mengundang seluruh karibnya untuk berpesta alkohol dan
obat sepuasnya.

Dalam kerisauan panjang, beriring desah dan keluh kesah, daerah Puncak
Bogor –Puncak dikenal sebagai tempat rekreasi di daerah Jawa Barat–
selalu menjadi tempat menumpahkan penat, mengubur kegundahan yang
membuncah. Wal hasil bukan ketenangan yang didapat bahkan gelisah itu
makin menjadi. Namun dari daerah inilah benih hidayah itu mulai mekar
membesar. Puncak menjadi tempat bersejarah, tempat solusi menjawab
segala kerisauan.

Saat itu hari Jumat siang. Pria dengan rambut awut-awutan ini masih
memegang botol miras, duduk di tempat yang tinggi sambil sesekali
memandang ke arah bawah. Pandangannya tertuju kepada beberapa warga
desa yang ramai menuju mesjid, hatinyapun bergetar, kerisauanpun
kembali mengusik hati.

"Mereka dengan kesahajaan bisa menemukan kebahagiaan. Apakah di Masjid
ada kebahagiaan?!" Pertanyaan itu selalu mengusik Gito.

Sungguh pemandangan indah di hari Jumat itu, memberi arti tersendiri
bagi kehidupan Gito Rollies. Sulit dibedakan keterusikan karena
sekedar ingin tahu atau ini adalah awal Allah membukakan hatinya bagi
pintu tobat.

Dicobanya untuk mendekati Masjid itu, subhanallah, seperti ada magnit
yang memendekkan langkahnya untuk tiba. Mungkin di sana ada
kebahagiaan. Terlihatlah sebuah pemandangan yang meluluhlantakan
kegelisahannya selama ini.

"Rasanya seluruh otakku tiba-tiba dipenuhi oleh kekaguman. Dan entah
kenapa, aku seperti mendapatkan ketenangan melihat orang-orang ruku,
sujud dalam kekhusuan,"

"Bukankah apa yang kulakukan selama ini untuk mendapatkan ketenangan,
tapi kenapa tidak? Ya, aku telah bergelut dengan kesalahan dan tetek
bengeknya yang semuanya adalah dosa. Benarkah Allah tidak akan
mengampuni dosaku? Lantas buat apa aku hidup jika jelas-jelas
bergelimang dalam ketidakbahagiaan." Pikiran itu terus bergelayut
seakan haus jawaban.

"Malam itu aku benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Aku gelisah
sekali. Ya, ternyata aku yang selama ini urakan, permisive ternyata
masih takut dengan dosa dan neraka. Berhari-hari aku mengalami
kegelisahan yang luar biasa. Hingga suatu malam, di saat kegelisahanku
mencapai "puncaknya", aku memutuskan untuk memulai hidup baru.

"Selama hidupku, baru kali ini aku diliputi suatu perasaan yang belum
pernah aku rasakan semenjak mulai memasuki dunia selebritis. Maka, aku
pun segera berwudlu dan melakukan shalat. Ketika itu, untuk pertama
kalinya pula aku merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Dan sejak hari
itu, aku memutuskan untuk tekun memperdalam agama sekalipun masih
banyak sekali tawaran-tawaran menggiurkan yang disodorkan kepadaku
atau pun beragam ejekan dari sebagian orang. Aku pun melaksanakan haji
seraya berdiri dan menangis di hadapan ka'bah memohon kepada Allah
kiranya mengampuni dosa-dosa yang telah aku lakukan pada hari-hari
hitamku."

Ketika mentari terbit, Gito langsung mengajak istrinya untuk pergi ke
Bandung, menjenguk sang ibunda. Di sana, ia mengutarakan niatnya untuk
tobat yang disambut tangis haru sang ibu. Sejak saat itu, Gito resmi
meninggalkan dunia kelam.
Satu yang disyukuri Gito adalah, dukungan dan kesabaran sang istri,
Michelle, yang tak pantang habis.

"Saat aku sudah belajar agama, aku tidak berupaya menyuruhnya shalat.
Ia tiba-tiba belajar shalat sendiri, begitu juga anak-anak. Suatu
hari, ketika aku pulang, tiba-tiba aku mendapatinya tengah mematut
diri di depan kaca sambil mengenakan jilbab. Padahal aku tidak pernah
menyuruhnya. Subhanallah, istriku memang yang terbaik yang pernah
diberikan Allah," kata ayah dari empat putra ini.

Tobatnya Gito juga disyukuri oleh sang mertua, warga negara Belanda
yang berimigrasi ke Kanada. Meski berbeda keyakinan, ibu mertuanya
justru senang dengan perubahan yang dialami Gito.

"Kata beliau, aku jadi lebih kalem ketimbang dulu, meski sekarang
pakai jenggot segala. Bahkan aku jadi menantu favoritnya lho,"
tuturnya sambil terkekeh.

"Mengapa Allah memberikan hidayah kepada diriku yang kerdil ini?
Mengapa Allah menciptakan makhluk yang penuh dosa ini?"

Gito mengaku harus merenung lama untuk menemukan jawaban itu. Setelah
dia menjalankan shalat dan menunaikan haji, jawaban itu baru mampir di
benak dan pikirannya. "Ternyata, Allah menciptakanku untuk menjadi
manusia baik. Semula mengikuti idolaku, Mick Jagger. Aku menjadi
penyanyi dan rekaman lalu mendapat honor. Tapi itu bukan kebahagiaan
sepenuhnya buatku."

"Mick Jagger itu dulu menjadi idolaku. Ikut mabok, main cewek, dan
seabrek dunia kelam lain. Tapi sekarang aku mengidolakan Nabi. Dan
sekarang, aku menemukan nikmat yang tiada tara."

Kalimat itu meluncur dengan lugas dari Gito Rollies, artis ndugal yang
kini memilih ke pintu pertobatan. Penampilan Gito tak lagi urakan
dengan rambut awut-awutan dan celana jin belel. Bukan pula pelantun
lagu-lagu cadas yang berjingkrak-jingkrak tidak keruan.

"Aku sudah mendapatkan banyak hal di dunia ini. Sekarang saatnya
mengumpulkan amal untuk persiapan menghadapi hari akhir ," katanya
ketika memberi testimoni tentang perubahan dalam hidupnya.

Artis kelahiran Biak, Papua, 1 November 1947 dengan nama bangun Sugito
ini awalnya dikenal sebagai rocker. Dalam perjalanan karirnya, ia juga
dikenal sebagai aktor dan terakhir dalam kondisi sakit ia menjadi
penceramah agama.

Nama Gito terlihat diambil dari nama aslinya, sementara nama Rollies
diambil dari nama grup band asal Bandung, The Rollies yang pernah
terkenal pada dekade 1960-an hingga 1980-an. Grup ini terdiri dari
vokalis Gito, Uce F Tekol, Jimmy Manoppo, Benny Likumahuwa, Teungku
Zulian Iskandar.

Setelah bersolo karir, dia menelorkan sejumlah album solo, yakni Tuan
Musik (1986), Permata Hitam/Sesuap Nasi (1987), Aku tetap Aku (1987),
Air Api (1987) dan Tragedi Buah Apel (1987) dan Goyah (1987).

Sebagai aktor Gito memulai debutnya di dunia film lewat Buah Bibir
(1973) sebagai figuran. Setelah benar-benar menjadi aktor ia bermain
dalam Perempuan Tanpa Dosa (1978), Di Ujung Malam (1979) dan Sepasang
Merpati (1979), dan Permainan Bulan Desember (1980), dan Kereta Api
Terkahir (…). Namun kekuatan aktingnya terlihat pada Janji Joni yang
mengantarkannya meraih piala Citra untuk kategori Aktor Pembatu Pria
Terbaik pada Festival Film Indonesia tahun 2005.

Kang Gito, begitu sapaan akrabnya, memang bukan lagi Gito Rollies yang
lama. Sejak 10 tahun belakangan, hidupnya berubah 180 derajat. Kini,
ia lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, mantan personel band
The Rollies ini tak segan-segan menyerukan semua orang untuk
meninggalkan kehidupan yang dipenuhi alkohol dan obat-obatan
terlarang.

"Dalam hidup ini -apa pun agamanya- adalah paling baik mengikuti
ajaran agama. Karena inilah yang akan membentengi kita -terutama
anak-anak- dalam menjalani cobaan hidup," lanjut ayah tiga anak dari
perkawinan dengan Michelle: Puja, Bayu dan Bintang.

Toh, meski sudah berada di jalan Allah, Gito tak pernah merasa dirinya
yang paling benar. Ia selalu menolak jika disebut kyai, atau diminta
untuk berceramah. Menurutnya, ia hanyalah orang yang masih terus
belajar agama. Apapun yang diucapkannya di depan umum adalah upayanya
berbagi cerita.

Bahkan, Gito masih merasa belum cukup bertobat hingga akhir hayatnya.
Tak pernah sekalipun ia merasa dosa-dosanya telah terhapuskan. Dalam
suatu pengajian ia sempat bertanya kepada ustadz yang berceramah,
apakah dosa-dosanya di masa lalu bisa berkurang dengan perbuatannya
saat ini.

"Tak hanya berkurang, namun dosa Kang Gito bahkan sudah dianggap
lunas. Kang Gito jangan berpikir perbuatan baik saat ini untuk bayar
dosa yang lalu. Sekarang Kang Gito tengah menabung untuk masa depan,"
jawab sang ustadz, yang disambut Gito dengan wajah sumringah.

Sejak 1990-an nama Gito hilang dari peredaran setelah dia menarik diri
dari dunia panggung musik rock maupun film. Khalayak pun tidak lagi
menyaksikan aksi-aksi penyanyi bersuara serak dengan gaya panggungnya
yang atraktif. Beberapa tahun kemudian Gito muncul menjadi seorang
dai, yang kerap tampil dengan pakaian putih-putih.

Sejak 2005 Gito harus terbaring lemah. Ia tak berdaya melawan kanker
kelenjar getah bening yang dideritanya. Namun kemudian ia justru
terlihat banyak melakukan kegiatan dakwah. Bahkan sebelum meninggal
Gito masih sempat berdakwah di Padang, Sumatera Barat selama 11 hari.

Tahun-tahun belakangan memang terasa berat buat Michelle Sugito wanita
asal Kanada yang telah mendampingi hidupnya selama ini. Ia harus
mendampingi suaminya menjalani terapi pengobatan kanker kelanjar getah
bening yang dirasakan penyanyi rock ini, dua tahun terakhir.

Sosok Bangun Sugito yang atletis dan enerjik di panggung sudah menjadi
bagian masa lalu. Untuk berjalan pun kini ia harus dibantu atau
minimal menggunakan tongkat. Kadang ia memang menolak untuk dibantu.
"Maunya sih tidak dibantu. Tetapi karena aku selalu bicara bahwa
manusia harus saling membantu, ya aku juga harus mau dibantu orang
lain," kata Gito.

Karena itulah ia juga tidak menolak ketika diminta ikut dalam acara
penggalangan dana buat korban gempa bumi Yogyakarta yang digagas orang
tua murid tempat isterinya bertugas. Gito menganggap saat ini sudah
saatnya ia bernyanyi untuk berdakwah, sesuatu yang ia harapkan ada
manfaatnya buat para pendengarnya.

Sebab itu pulalah ia lebih memilih menyanyikan lagu-lagu bernuansa
religius ketimbang lagu-lagu nunasa masa lalu
seperti,"Astuti…Tuti..Tuti…"

Bersamaan dengan sumbangan yang mengalir dari undangan, air mata
Michelle Sugito makin deras mengalir.

Ya, Gito Rollies memang pribadi yang penuh kenangan. Kehidupannya
tersimpul dalam satu kalimat 'Mantan lalim, yang jadi orang alim'.
Masa mudanya memang sangat dekat dengan miras, narkoba dan hura-hura.
Selama kurang lebih 23 tahun tidak menyurutkan niat rocker gaek
bernama lengkap Bangun Sugito ini untuk tobat dan mendalami agama.

Dialah satu-satunya Rocker yang meninggal dengan tenang, indah dan
tersenyum. Happy Ending. Seandainya Sid Vicious meninggal dengan
tenang di St Paul's Cathedral, Kurt Cobain dan Jimmy Hendrix meninggal
mesra di St James Cathedral maka sepertinya tidak akan ada stigma:
Rocker mati konyol dengan mulut berbusa atau berlumuran darah karena
bertingkah bodoh akibat pengaruh narkoba. Dan mitos "Rocker Legend
mati muda" pun sudah mulai usang karena Legend kita yang satu ini
tutup usia di umur 61 tahun.

Gito menigggalkan seorang isteri bernama Michelle dan lima anak, yakni
Galih Permadi, Bintang Ramadhan, Bayu Wirokarma, dan Puja Antar
Bangsa.

Sebaik-baik usia tiap orang adalah pada penghujungnya. Dan ketahuilah,
bagi kita, ujung-ujung usia akan selamanya menjadi misteri, karena
seringkali di sanalah Allah memberikan kesudahan yang indah dari
perjalanan taubat hamba-Nya.

Ila Robbika Muntahaha. Innama Anta Mundziru Man Yaghsyaha

http://www.dakwatuna.com/index.php/kaifa-ihtadaitu/2008/jalan-taubat-sang-rocker/

Klik Judul Artikel untuk Baca Selengkapnya....

PACARAN HALAL

0

Sebagai Proses Penjajakan, Percayalah Kepada Cowok

(tidak mengandung ayat dari kitab agama manapun)
Jangan salah persepsi. Tulisan ini sama sekali tidak membenarkan judul di atas. Hanya sebagai umpan untuk menarik perhatian pembaca.

Berdasarkan dari betapa mudahnya wanita diperdaya oleh lelaki/cowok. Bahkan dengan sangat angkuhnya wanita sering berpendapat bahwa dirinya tidak akan mudah termakan rayuan gombal lelaki. Itu benar, karena dimasa sekarang ini tidak ada lelaki yang bibirnya bisa mengucapkan rayuan gombal seperti film-film Indonesia toempoe doeloe. Tetapi dengan pendidikan dan teknologi yang berkembang, metode kami berubah (red:cowok).

Kami bisa memanfaatkan semua SDM dan SDA yang ada di sekitar kami untuk menunjang tegaknya diagnosa “SERIUS” dihadapan target (wanita). Apakah property “nebeng”? Oh tidak! Bahkan hanya dengan kesederhanaan, malah jadi pamungkas yang cukup jitu untuk meluluhkan hati wanita incaran kami. Karena dengan kesederhanaan dan property seadanya, akan mendatangkan kesan ketulusan dan bersahaja. Yang kemudian menimbulkan cinta sepenuh hati, berakibat kepasrahan. Ini fokusnya, kepasrahan yang artinya diriku sepenuhnya kuserahkan padamu, termasuk my virgin (klo masih).

Wahai wanita, tidak semua diantara kami kaum lelaki mengincar hartamu, yang merupakan incaran kami sebenarnya adalah SEX, sejauh mana dirimu memberikan rasa penasaran kepada kami, selama itu pula kami sanggup bersandiwara dengan sekuat tenaga kami. Mengapa kami sebut sandiwara? Karena kami menyimpulkan bahwa yang telah beristeri saja masih banyak yang selingkuh (meski tidak semuanya).

Pernikahan yang kejelasan statusnya dilindungi oleh hukum agama dan UU Negara, masih sering kami injak-injak. Apalagi status pacaran? Yang sama sekali tidak dikuatkan oleh peraturan manapun. Artinya seorang cowok bisa saja berpacaran dengan seribu cewek dalam waktu bersamaan atau sebaliknya. Maka jadilah pemuda-pemudi bangsa ini sebagai pakar zina, dari yang kecil sampai yang besar.

Tapi masalah jadi bangsa apa bukan urusan kami, selagi kami masih bisa menikmati kenikmatan dunia lewat tubuh wanita secara free, maka paradigma “Pacaran sebagai proses penjajakan” akan selalu kami sebarkan dengan cara apapun.

Sex dengan pacar sendiri sangat berbeda rasanya dengan sex dengan pelacur manapun dengan harga pakai berapapun. Sebab wanita yang selalu jadi target kami tentunya bersih, sehat, bebas penyakit menular seks (PMS), terawat dan terdidik.

Soal kaya atau miskin si target itu bisa disesuaikan. Maksudnya apabila kami telah sukses memperdaya hati target, maka keadaan keuangan akan sangat mudah dikendalikan berdasarkan scenario “rasa pengertian” yang kami ciptakan di hati target. Pulsa yang kami keluarkan untuk menjalin kedekatan tidak sebanding dengan kenikmatan yang menanti kami.

Target berjilbab? Bisa sukses bisa juga tidak.
Usaha kami dalam berburu “kenikmatan” terhadap target berjilbab memerlukan beberapa trik tambahan. Tetap bersikap sederhana, apa adanya, bersahaja, pengakuan terhadap kekurangan diri, bersikap humoris dan sedikit bumbu religi yang didapat dari ceramah ustadz-ustadz di televisi bisa jadi referensi tambahan.

Usaha kami sukses terhadap target yang berjilbab yang juga masih berpakaian ketat, sehingga jilbab kadang-kadang hanya menutupi rambutnya dan tidak menutupi ukuran “hardware” indahnya. Kulit target yang halus mulus karena sering tertutup dari polusi udara dan matahari memberikan sensasi yang tidak sama dengan target tidak berjilbab pada umumnya.
Luar biasa!!!

Usaha kami gagal apabila target berjilbab tapi juga berpakaian yang lebar, sehingga tidak tampak keindahannya lewat mata secara fisik, tapi kami sangat yakin dibalik pakaian yang lebar itu tersimpan lebih banyak keindahan. Kami kurang pasti penyebab kegagalan usaha kami terhadap target tersebut, bisa jadi keteguhan target dalam memegang keyakinan bahwa keindahan yang mereka miliki merupakan “harta berharga” yang hanya akan disuguhkan kepada suami mereka nantinya.

Kenyataan yang menggembirakan adalah target “kokoh” semacam ini berjumlah sangat sedikit jika dibandingkan dengan total target “empuk” yang banyak tersedia di sekitar kami.

Pada umumnya target menginginkan “keseriusan”. Ketidaktahuan mereka terhadap makna kata serius ini yang sering kami manfaatkan sebagai peluluh hati mereka. Trik yang kami gunakan bermacam-macam, mulai dari kirim sms yang bertuliskan “Aku serius lho sama kamu”, telepon diatas jam 23.00 (tarif murah) untuk bicara panjang lebar dengan topik yang dipilih secara random. Ini trik yang paling sederhana dan cukup jitu untuk target yang masih lugu atau pura-pura lugu soal keseriusan hubungan. Maksudnya walau target sudah mengerti tentang trik yang kami jalankan dalam meraih target, tapi seiring waktu dan semangat kami yang tidak berputus asa dalam menjalankan skenario, cepat lambat target yang dulunya pura-pura lugu akan luluh akhirnya melihat semangat tulus palsu kami.

Jika tujuan utama kami yaitu tubuh indah target belum didapatkan, maka bukti keseriusan palsu kami dapat dikuatkan dengan memboyong mereka ke orang tua kami atau sebaliknya, kami bersedia diboyong ke orang tua target. Sampai disini saja keberanian kami untuk bermain dengan kata serius, untungnya karena 99% target telah takluk pada level trik ini.

Kenyataan yang juga menggembirakan kami adalah apabila ternyata orang tua kami atau oramg tua target juga memiliki paradigma “Pacaran adalah proses penjajakan” atau “Pacaran adalah proses yang harus dilalui oleh remaja normal”.
Luar biasa!!!

Target yang telah beranggapan bahwa “inilah jodohku”, dengan paradigma ini kami telah mendapatkan kepercayaan penuh dari segala pihak untuk memperlakukan target semau kami. Termasuk menikmati kenyamanan sensasi seks penuh gratisan yang kami tunggu-tunggu selama perjuangan. Tidak perlu buru-buru, karena kami sangat dan sangat memperhatikan situasi, kondisi dan domisili.

Soal dikemudian hari kami bosan dengan target yang sudah habis manisnya karena kami hisap atau muncul target baru yang lebih segar, maka skenario pelepasan diri dapat dijalankan dengan berbagai alasan. Sangat mudah melakukannya mengingat semua manusia memiliki kekurangan, kekurangan inilah yang harus diangkat ke permukaan dan menjadi pokok bahasan yang berlanjut dengan putusnya hubungan. Alasan ketidakcocokan bisa menjadi penangkal pertanyaan orang tua masing-masing pihak.

Putus. Juga merupakan jalan baru bagi kami untuk memulai skenario pengejaran target baru. Tampang berduka, bahkan tampang tegar paska putus pun bisa menjadi pesona di hadapan target baru ini. Tentunya kami tidak meninggalkan trik-trik peluluhan hati yang kami terapkan terhadap target-terget sebelumnya seperti sederhana, tampil apa adanya, bersahaja, sedikit ditambah bumbu humoris karena target pada umumnya ingin dekat dengan orang yang selalu bisa membuatnya tersenyum dalam setiap keadaan. Target selalu ingin merasakan aman, nyaman, disayang, diperhatikan (beberapa). Maka sedaya upaya kami akan ciptakan suasana tersebut hanya didekat kami. Persepsi bahwa di dekat kami maka target merasa aman, nyaman, tenang, tersenyum, dan damai merupakan paradigma yang harus kami ciptakan di dalam kepala target.

Untuk kesekian kalinya kami selalu sukses dalam pencapaian tujuan kami, menjadikan kami sangat berpengalaman dan cerdas dalam program ini, dengan atau tanpa hambatan sama sekali. Sungguh indah dunia ini, dipenuhi dengan target-target berpendidikan tapi bodoh yang menunggu giliran untuk kami habisi.

“Ahh, saya kan gak pernah serius klo pacaran, ngapain takut!”
Jika terget berfikiran seperti kata-kata di atas, maka pemikiran seperti ini juga merupakan peluang besar bagi kami untuk memulai skenario peluluhan hati. Yang kami utamakan lebih dahulu adalah mengadakan ikatan super tidak jelas bernama Pacaran, soal cinta atau tidak, itu cuma masalah waktu. Trik-trik yang kami lancarkan akan mengubah keadaan hati target seiring waktu yang dilalui bersama-sama dan komitmen semu tentang pacaran yang kami atau orang lain ciptakan.

“Ahh, tidak semua cowok seperti itu, cowokku ga gitu and ga mungkin begitu!”.
Kata-kata sejenis ini merupakan tolak ukur keberhasilan skenario BHSP (Bina Hubungan Saling Percaya) yang nantinya menjadi peluang besar untuk mendapatkan tubuh target di kemudian hari. Karena salah satu yang kami ingin bentuk adalah pendapat target bahwa kami adalah cowok yang berbeda dengan cowok pada umumnya.

Jika Anda wanita berpenampilan menarik atau tidak, bertubuh indah baik tertutup atau tidak, mencari keseriusan hubungan, mencari cinta dari sesama manusia tanpa pemahaman yang jelas…
Maka Anda target kami berikutnya!!!

Wahai wanita, ketahuilah bahwa seorang laki-laki yang benar-benar serius terhadapmu akan datang kepada orang tuamu dengan berkata “Pak, saya ingin menikahi putri Bapak, sekarang saya punya penghasilan Rp…http://kopiradix.multiply.com/bulan, dst”, sedangkan laki-laki yang benar-benar serius ingin menghabisimu akan datang langsung kepadamu dengan berkata “Maukah kamu jadi pacarku?”.

Puncak kehinaan wanita ketika ia menerima tembakan seorang lelaki untuk jadi kekasihnya.
Puncak kemuliaan wanita ketika orang tua/walinya mempertimbangkan lamaran seorang lelaki untuk jadi isterinya.
Hancurkan harga diri dengan pacaran, muliakan diri dengan …

Tidak ada solusi termuat dalam tulisan ini, meskipun solusinya tertulis tetapi tidak akan menghentikan kegiatan kami, kami hanya bisa berhenti jika semua target mengaplikasikan solusi yang sebenarnya sudah mereka tahu.
Pacaran sebagai proses penjajakan, penjajakan = peng”injak-injakan” atau pen”jaja”an.
Jika Anda belum pacaran, Nantikan kehadiran kami di sisi Anda!
Jika Anda telah putusan, Nantikan juga kehadiran kami di sisi Anda!
Jika Anda masih pacaran, maka tunggu tanggal “main” kami bersama Anda!

Wallahua’lam bisshawab
Cyber City Net 30.10.2006 at 02.22 am

Jika ikhwan akhwat setuju dengan tulisan ane yang penuh kekurangan ini, ane izinkan kopy paste aja n kirim ke teman2 diluar myQ, bebas diedit.
Artikel ekstrem ini asli karangan Admin Cyber City Net,
Merupakan 99% pengakuan diri dari pengalaman hidup dan argumen murni yang keluar dari kepala botaknya,
tanpa saduran dari buku atau website manapun.

Penulis tidak mendapat kerugian atau keuntungan sepeser pun dari tersebarnya artikel ini
Kritik, saran, protes, hinaan dan cacian ditunggu di irgunawan.spk@gmail.com

Klik Judul Artikel untuk Baca Selengkapnya....